Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Di Balik Pujian Sosok "Bapatua", Ternyata Kekayaan dan Kebaikan Itu Berasal dari Jaring Narkoba

Jumat | Agustus 21, 2026 WIB Last Updated 2026-08-21T01:08:28Z

Batam, radarberita.id — Sosok yang selama ini dipandang masyarakat sebagai dermawan dan penolong sejati, kini terungkap menyimpan wajah kelam di balik topeng kebaikannya. Penangkapan pria yang akrab disapa Bapatua sebagai gembong jaringan narkoba mengagetkan sekaligus mengguncang kepercayaan warga.

 

Selama ini, Bapatua dikenal luas sebagai sosok yang tak segan mengulurkan tangan. Ia kerap membantu biaya pengobatan warga kurang mampu, meringankan beban keluarga yang kesulitan ekonomi, hingga turun langsung menanggapi persoalan di lingkungan. Banyak warga memujinya, menganggapnya pelindung, bahkan menyebutnya bagaikan "dewa penolong" yang hadir di saat-saat sulit.

 

Namun kenyataan pahit kini terkuak. Segala kemewahan, kedermawanan, dan bantuan yang ia berikan selama ini ternyata bersumber dari perputaran uang haram—hasil penjualan narkoba yang beroperasi secara masif di sejumlah Tempat Hiburan Malam(THM) di kota Batam. Pria asal wilayah Indonesia bagian Timur ini membangun citra kebaikan di atas penderitaan orang lain.

 

Penangkapan Bapatua memicu reaksi keras dari masyarakat. Salah satu warga Batam, yang identitasnya minta dirahasiakan menyampaikan kemarahannya atas modus yang dinilai sangat licik dan memanfaatkan kepercayaan warga.

 

"Saya sangat menentang keras perbuatan seperti ini! Bagaimana mungkin kita bisa menerima pemberian yang sebenarnya berasal dari menghancurkan masa depan anak-anak kita sendiri?" ujar warga tersebut dengan nada berapi-api, Jumat (21/08/2026).

 

"Menyamar sebagai penolong hanya untuk menutupi perbuatan jahatnya—ini sungguh keji. Uang yang ia berikan itu kotor, berbau kerusakan. Setiap rupiahnya adalah air mata keluarga yang hancur karena narkoba. Kami warga tidak akan tertipu lagi. Kebaikan tidak boleh dibangun di atas penderitaan sesama," tegasnya.

 

Kemarahan serupa juga dirasakan warga lainnya. Mereka merasa telah dibohongi, dipuji-puji justru menjadi sarana untuk melanggengkan kejahatan yang merusak tatanan kehidupan bermasyarakat.

 

Kini, topeng telah terlepas. Sosok yang dipuja sebagai penolong itu berdiri di hadapan hukum sebagai pelaku kejahatan. Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh masyarakat: kedermawanan sejati lahir dari rezeki yang halal dan ketulusan hati, bukan dari keuntungan yang menelan korban, sekalipun dikemas dalam balutan kepedulian yang tampak tulus.


Selama ini warga tidak menyangka. Kebaikan yang tampak tulus ternyata adalah strategi untuk menutupi jejak kejahatan. Ia membiarkan masyarakat memujinya, membiarkan dirinya dihormati, sementara di balik itu jaringan narkoba terus beroperasi dan meraup keuntungan besar.

 

Warga berharap aparat penegak hukum menindak tegas pelaku beserta seluruh jaringannya, agar tidak ada lagi yang tertipu oleh "penolong" yang sesungguhnya adalah perusak masa depan. (Red)

×
Berita Terbaru Update