Notification

×

Iklan


Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dapur MBG Mekar Sari Pinang Kencana Empat Hari Sajikan Menu Produk Olahan Pabrik Yang Memakai Bahan Pengawet

Sabtu | Desember 13, 2025 WIB Last Updated 2025-12-13T11:19:51Z
Foto : Produk Olahan Pabrik Yang Dipakai Dapur MBG Mekar Sari

Tanjungpinang, radarberita.id -  Sejumlah orang tua siswa SMPN 7 dan SMPN 16 Tanjungpinang menyampaikan kekecewaan terhadap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima anak-anak mereka.


Informasi yang dihimpun redaksi menyebutkan bahwa selama empat hari berturut-turut, sejak Senin hingga Kamis (8–11 Desember 2025), para siswa mendapatkan menu yang dinilai tidak sesuai dengan pedoman gizi seimbang Badan Gizi Nasional (BGN).


“Tujuan program ini untuk memberikan gizi seimbang. Tapi kalau anak kami hanya dikasih roti, pisang, bubur, telur, ditambah snack pabrikan, ya sama saja seperti bekal seadanya. Tidak sesuai harapan,” ujar seorang orang tua siswa SMPN 16 Tanjungpinang.


Keluhan serupa datang dari wali murid SMPN 7 Tanjungpinang. Ia mengungkapkan anaknya beberapa hari menerima menu kering tanpa variasi makanan basah seperti yang seharusnya.


“Benar, beberapa hari anak kami diberikan telur, pisang, roti, bubur, dan makanan ringan seperti kacang koro,” ujarnya.

Menurutnya, seharusnya menu MBG menyajikan makanan basah berupa nasi, lauk pauk, sayur, dan tambahan susu sesuai ketentuan BGN.


Pihak dapur MBG Mekar Sari, Kelurahan Pinang Kencana, membenarkan bahwa mereka memang menyajikan menu kering dalam beberapa hari terakhir.

“Menu kering tersebut permintaan dari pihak sekolah karena anak-anak sedang ujian dan pulang lebih cepat, jadi mereka minta makanan kering saja,” jelas Nina, Akuntan MBG Mekar Sari.


Ia menambahkan bahwa penyajian selama minggu itu memang lebih condong pada menu kering, berbeda dengan dapur Posyandu yang tetap menyediakan makanan basah.


Terkait penyajian snack kacang koro olahan pabrik yang diduga mengandung bahan pengawet dan tidak direkomendasikan untuk program BGN, Nina yang didampingi ahli gizi Erike menjelaskan bahwa hal itu dilakukan karena keterbatasan waktu.


“Menu itu tidak diberikan setiap hari. Karena keterbatasan waktu, kami memilih makanan kemasan. Untuk perubahan menu, biasanya ada komunikasi dulu dengan kepala SPPG. Kami hanya merealisasikan,” katanya pada Kamis (11/12/25). ( BUD )

- advertisement -

×
Berita Terbaru Update